Yogyakarta (25/04) – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) dan Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) sukses menyelenggarakan Studium Generale ke-11 secara virtual bagi mahasiswa Program Magister, Doktoral, dan Profesi UAD pada Jumat, 24 April 2026. Acara ini mengusung tema “Etika Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Pengembangannya” dan bertujuan untuk memberikan wawasan interdisipliner bagi mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Acara ini dipandu oleh Dr. Patria Handung Jaya S.Pd., M.A. yang bertindak sebagai pembawa acara (MC) sekaligus pembuka rangkaian kegiatan. Sesi pembukaan berlangsung khidmat dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Amir Abdul Aziz dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Muhammadiyah “Sang Surya”.

Dalam laporannya, Kepala LPP UAD, Prof. Dr. Ishafit, M.Si., menekankan bahwa Studium Generale ini merupakan hasil kolaborasi strategis untuk memberikan cakrawala berpikir yang luas bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa aktif. Prof. Ishafit memaparkan bahwa di tengah era kecerdasan buatan dan AI Agents, seorang ilmuwan pascasarjana tidak boleh hanya terpaku pada satu bidang keahlian saja, melainkan harus memiliki wawasan interdisipliner yang kuat. Persoalan dunia saat ini semakin kompleks, sehingga diperlukan kemampuan untuk melihat tantangan secara komprehensif dan holistik agar solusi yang dihasilkan benar-benar memberikan dampak nyata. Beliau berharap forum ini menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan daya kritis dan kesiapan teknis dalam menyongsong perubahan zaman yang serba cepat.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Dr. Nur Kholis S.Ag., M.Ag., yang memberikan sambutan mengenai tantangan moral di abad ke-21. Dr. Nur Kholis menyampaikan bahwa meskipun AI merupakan realitas yang bersifat destruktif, UAD tidak menolak kehadirannya melainkan membingkainya dengan nilai-nilai Maqasid Syariah dan tanggung jawab sebagai khalifatullah fil ard. Beliau juga melontarkan pesan edukatif mengenai pentingnya menjaga batasan etika agar penggunaan AI tidak terjebak dalam praktik plagiarisme selama proses penulisan tesis maupun disertasi.

Memasuki sesi inti, diskusi materi dipandu secara profesional oleh Ir. Sri Winiarti S.T. M.Cs. sebagai moderator yang mengawal jalannya penyampaian materi dari para pakar hingga sesi tanya jawab berakhir. Sesi pertama diisi oleh Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, Q. N. S.Si., S.Kom., Ketua APTIKOM & Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma, yang memaparkan materi mengenai taksonomi riset dan tren masa depan melalui AI Agents. Prof. Benny menjelaskan peran AI yang mencakup pemahaman ilmiah, survei akademik, penemuan ilmiah, penulisan, hingga proses peninjauan sejawat (peer review). Walaupun data menunjukkan bahwa 85% dosen merasakan manfaat teknologi ini, Prof. Benny memberikan peringatan serius mengenai fenomena “halusinasi AI” di mana sistem dapat menghasilkan informasi salah atau referensi fiktif. Sebagai panduan normatif, Beliau merujuk pada Surat Edaran Menkominfo No. 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial agar penggunaan teknologi tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku di Indonesia.
Pada sesi selanjutnya, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D., memaparkan proyeksi masa depan AI yang dibagi ke dalam tiga fase penting, dimulai dari transisi menuju Artificial General Intelligence (AGI) pada 2026-2029 hingga mencapai titik Singularity pada tahun 2045. Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D. menekankan bahwa tanpa landasan etika yang kuat, AI bisa menjadi sangat berbahaya bagi kemanusiaan, sehingga peran Muhammadiyah sebagai “Guardian of Fitrah” menjadi sangat relevan dalam menjaga esensi manusia. Dalam kesempatan tersebut, Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D. juga mendemonstrasikan simulasi penggunaan KHGT AI Agent yang dilatih khusus untuk menjawab polemik seputar kalender Islam secara santun dan ilmiah di ruang digital.

Tingginya antusiasme peserta dalam kegiatan Studium Generale terlihat dari jumlah partisipan yang menembus angka lebih dari 490 orang, yang berasal dari berbagai program studi pascasarjana di UAD. Besarnya minat tersebut semakin nyata melalui sesi diskusi yang berjalan interaktif, sebagaimana ditunjukkan ketika salah seorang peserta menyampaikan pertanyaan yang kritis serta sangat relevan: “Sejauh mana batasan AI dalam pembuatan materi ajar atau dokumen administrasi guru? Karena dari sisi relevansi, materi yang diberikan AI lebih cepat terbarukan (up to date) namun disisi lain ada kemungkinan materi yang didapat belum sesuai standar pendidikan dan terkadang sulit untuk dipastikan sumbernya”. Pertanyaan tersebut mencerminkan kesadaran kritis mahasiswa akan pentingnya validasi data dan standarisasi mutu pendidikan di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi kecerdasan buatan.
Kegiatan Studium Generale ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa tentang peran vital pendidikan tinggi dalam mencetak ilmuwan yang adaptif, sekaligus menekankan bahwa ilmu yang dikejar harus diimplementasikan dengan semangat integrasi antara ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan moralitas keislaman demi kemaslahatan umat dan keberlanjutan kehidupan.